Category: TRADISI


Memahami Hari Raya Galungan

Oleh : Rumah Dharma Hindu Indonesia

LATAR BELAKANG SEJARAH

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya “menang” atau “bertarung”. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan yang juga berarti “menang”. Karena itu di Jawa wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi, sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama yaitu manis. Baca lebih lanjut

Iklan

USAHA MENGENAL KAWITAN

OM Svastyastu,
Kiriman: Putra Semarapura

Baru-baru ini Unhi Denpasar menyelenggarakan seminar dengan pokok bahasan kemungkinan pengenalan soroh (wangsa) melalui tes DNA. Dari segi hukum, usaha mengenal kawitan atau soroh, serta pemakaian atributnya bagi umat Hindu merupakan salah satu hak asasi manusia (HAM). Karenanya, siapa pun dan dari pihak mana pun tidak berhak melarangnya. Sedangkan dari segi agama (baca: Hindu), pengenalan akan kawitan (soroh) bersifat wajib.
Diyakini, bahwa pengenalan akan kawitan/leluhur secara mantap akan lebih memantapkan sradha-bhakti terhadap kawitan/leluhur, lebih lanjut akan meningkatkan kemantapan sradha-bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan YME). Dengan demikian, kesejahteraan hidupnya pun dapat diharapkan akan makin meningkat. Baca lebih lanjut