Tips Menghapus Kemarahan – Kebencian

Oleh : Rumah Dharma Hindu Indonesia

PEMAHAMAN YANG BENAR

Langkah penting pertama adalah belajar memahami situasi secara benar. Kalau cara memandangnya benar kita melangkahnya akan benar, kalau cara memandangnya salah kita melangkahnya juga salah. Kita akan melangkah menjadi baik, kalau cara memandang kita baik. Di bawah ini adalah cara memandang secara baik dan benar.

A. Mereka orang yang sedang melakukan kebaikan kepada kita

1. Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, lihatlah mereka sebagai ORANG BAIK. Mereka menyediakan dirinya untuk menjadi guru dharma tertinggi untuk kita secara gratis. Karena orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, mereka sesungguhnya sedang membuat kita menjadi sabar dan bijaksana. Tidak mungkin kita menjadi sabar dan bijaksana hanya dengan paham dan hafal buku suci. Tidak mungkin kita menjadi sabar dan bijaksana hanya dengan belajar dari satguru. Kesabaran dan kebijaksanaan paling mungkin diajarkan oleh orang yang mencaci dan menyakiti kita. Tapi dengan syarat, kita bisa diam dan tidak marah. Sebab kualitas bathin kita tidak mungkin bisa bertambah bersih kalau kita tidak pernah dicaci, dihina dan disakiti. Sehingga orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita bukanlah racun dalam kehidupan kita, tapi kekuatan kebaikan yang membukakan cahaya kesadaran di dalam diri kita.

2. Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, lihatlah mereka sebagai ORANG BAIK. Sebab hanya untuk membuat kita menjadi sabar dan bijaksana, mereka rela menanggung karma buruk dari perbuatan mereka itu.

Kalau ”orang jahat” saja bisa kita lihat sebagai orang baik, tidak ada tempat di segala penjuru semesta ini yang tidak menghadirkan Hyang Widhi.

3. Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, lihatlah mereka sebagai ORANG BAIK. Sebab mereka menyediakan barometer gratis untuk mengukur kualitas kebersihan bathin kita sendiri. Kalau kita belum bisa memancarkan cahaya welas asih dan kebaikan kepada orang-orang yang menyakiti kita, itu pertanda bathin kita belum sepenuhnya bersih. Karena jiwa yang bersih sempurna, dia bisa memancarkan kasih sayang bahkan kepada orang yang mencaci, menghina dan menyakiti.

B. Mereka orang yang sedang menderita

Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, yakinlah mereka itu ORANG YANG SEDANG MENDERITA. Sebab kemarahan, kebencian dan dendam itu suatu bentuk penderitaan bathin. Kalau kita memahami mereka sebagai orang jahat, yang muncul dari bathin kita adalah kemarahan. Tapi kalau kita bisa memahami mereka sebagai orang yang sedang menderita, yang sedang memerlukan kasih sayang kita, yang muncul dari bathin kita adalah cahaya welas asih dan keinginan untuk menyayangi.

Sehingga kalau kita ketemu sama orang yang “nggak bener”, kita jangan marah-marah kepada mereka. Lihat mereka sebagai mahluk yang sedang menderita, yang memerlukan welas asih kita. Dan di masa depan ada putaran waktunya sendiri mereka juga akan melaksanakan dharma.

MEMBAYAR HUTANG KARMA

Salah satu sebab kita lahir ke dunia adalah karena kita harus membayar hutang karma. Sehingga kalau kita berharap di semua putaran waktu hanya ada orang baik saja dan tidak ada orang-orang yang menyakiti kita, kita akan kecewa berat, lalu kemarahan-pun muncul. Jadi lihatlah apa sebenarnya makna dari kehadiran mereka yang mencaci, menghina dan menyakiti kita ?

Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, yakinlah bahwa KITA SEDANG MEMBAYAR HUTANG KARMA. Dalam ratusan ribu atau bahkan jutaan kelahiran kita sebelumnya, mereka pernah menjadi ibu kita, bapak kita, orang-orang di sekitar kita atau bahkan mereka pernah kita bunuh di jaman barbar dulu. Semuanya pernah kita sakiti. Dan itu jumlahnya tidak terhitung, tidak terhingga.

Jatuh sakit, kena musibah dan disakiti orang lain adalah kesempatan untuk membayar hutang karma. Hutang karma kita kepada orang lain, mahluk lain, alam semesta dan kesalahan2 masa lalu. Siapa saja yg melawannya dengan protes dan kemarahan, tidak saja gagal membayar hutang karma, tapi bisa jadi malah membuat hutang karma yg baru. Sebaliknya siapa saja yang bisa menyambutnya dengan damai, penuh welas asih dan hati yang bersih, ia sedang membayar hutang karma untuk kemudian bebas.

TEHNIK SEDERHANA MEREDAM KEMARAHAN

Memang awal-awalnya kita mulai belajar, kalau dicaci hati kita terasa sakit. Kalau disakiti hati kita terasa sakit. Dalam hal ini ada beberapa tehnik sederhana yang bisa kita pelajari dan laksanakan :

1. Belajarlah diam dan tidak marah. Kemarahan itu jangan kita ikuti, sebab kalau kita ikuti bisa tidak terkendali jadinya.

2. Sadari dalam pikiran kita kalau kita sedang marah. Dengan begitu kita lebih bisa mengontrol diri.

3. Tutup mulut rapat-rapat. Kalau mulut kita terbuka, kata-kata yang keluar bisa memanaskan situasi dan menjadi semakin tidak terkontrol.

4. Diam sekuat-kuatnya [kalau masih bisa]. Tapi kalau tidak bisa [kita merasa tidak tahan dengan orang itu], segeralah pergi menjauh. Pergilah ke tempat-tempat yang “sejuk” [misalnya : sanggah, pura, taman yang sepi]. Jangan pergi ke tempat-tempat yang “panas” [misalnya : pergi ke tempat orang yang akan malah mengompori dan memanas-manasi kita].

5. Lakukan pranayama [tarik nafas keluar-masuk dalam-dalam secara teratur].

6. Amati dan sadari gerak-gerik pikiran kita sendiri. Sadari kalau kita sedang marah.

Setelah melewati jangka waktu yang panjang bisa seperti itu, suatu hari nanti kita akan mengerti bahwa kemarahan dan sad ripu lainnya itu hanya ilusi-ilusi pikiran [manas] kita saja. Dan disaat itulah kita menjadi sabar dan bijaksana.

AKAR PENYEBAB KRODA [KEMARAHAN]

Seluruh Sad Ripu berakar dari ahamkara [ke-aku-an]. Inti ke-enamnya adalah : aishana [keterikatan] atau penolakan yang muncul dari ”sang aku”.

Misalnya :

1. Suatu hari ada yang memaki kita : ”kamu bangsat, anjing, setan”. Apa reaksi umum kita ? Kita-pun menjadi MARAH BESAR. Mengapa kita marah ? Apa karena kata-katanya kasar dan menghina ? Lalu bayangkan kalau makian yang sama ditujuan kepada orang yang sama sekali tidak kita kenal. Apa reaksi umum kita ? Kita TIDAK MARAH.

Mengapa pada kejadian pertama kita marah ? Kita marah karena yang dimaki itu AKU. Kita marah karena sang AKU melakukan perlawanan atau penolakan terhadap makian tersebut.