Konsep Sederhana Merealisasi Pembebasan (Moksa)

Oleh : Rumah Dharma Hindu Indonesia

Puncak dari mengungkap realitas diri ”siapakah aku” adalah jivan-mukti [pembebasan]. Tapi apakah itu konsepnya sangat sulit dipelajari dan eksklusif ? Belum tentu…

Di dunia ini tidak semua orang bisa mengerti Veda, tidak semua orang bisa mengerti Vedanta, tidak semua orang tahu Yoga, apalagi mengalami Samadhi. Jumlahnya tidak banyak. Salah satu sebabnya karena putaran karma dan tingkat pemahaman kita semua yang berbeda-beda. Tapi untuk merealisasi jivan-mukti [pembebasan], ada konsep sederhana yang mudah dimengerti. Semua orang bisa, kalau saja bertekad mau bersungguh-sungguh mempraktekkannya.

Intinya cuma dua : “keluar” dan “di dalam”. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, yang boleh muncul “keluar” dari bathin hanya sifat welas asih dan kebaikan. Dan “di dalam” bathin yang ada hanya keseimbangan bathin yang sempurna [upeksha], bebas dari dualitas.

1. Welas asih dan kebaikan.

Tumbuhkan sifat welas asih dan kebaikan yang terang benderang di dalam diri. Sayangi, sayangi dan sayangi apa saja dan siapa saja, apapun yang terjadi dalam kehidupan.

Bisa kita melatih diri dimulai dari dalam rumah sendiri dulu. Suami ngasi uang, kita sayangi – suami ngasi hutang juga sama kita sayangi. Istri melayani kita, kita sayangi – istri ngomel menyakitkan juga sama kita sayangi. Anak-anak penurut dan rajin belajar, kita sayangi – anak-anak brengseknya minta ampun juga sama kita sayangi.

Kemudian praktek dharma ini kita kembangkan semakin luas. Tetangga ngasi oleh-oleh, kita sayangi – tetangga ngelempar rumah kita dengan batu juga sama kita sayangi. Atasan di kantor menaikkan jabatan, kita sayangi – atasan di kantor memotong gaji juga sama kita sayangi. Kita dipuji orang, kita sayangi – kita dicaci-maki dan dihina orang juga sama kita sayangi. Gubernur memberi sekolah gratis, kita sayangi – gubernur menaikkan pajak juga sama kita sayangi.Dst-nya.

Sayangi, sayangi dan sayangi apa saja dan siapa saja, apapun yang terjadi dalam kehidupan. Menyayangi suami yang baik, itu manusia biasa – tapi bisa menyayangi suami yang selingkuh, itu tanda-tanda bathin yang mulai bergerak mendekati pembebasan. Menyayangi teman kantor yang baik, itu manusia biasa – tapi bisa menyayangi teman kantor yang memfitnah kita, itu tanda-tanda bathin yang mulai bergerak mendekati pembebasan.

Sadari hal ini setiap saat-setiap waktu, tugas kita satu : sayangi, sayangi dan sayangi. Jangan lengah dengan tugas kita ini.

Tidak perlu belajar Veda dan Vedanta, tidak perlu belajar yoga, tidak perlu belajar ke India, tidak perlu teori yang hebat-hebat, tidak perlu masuk hutan untuk bertapa, asalkan : sayangi, sayangi dan sayangi tanpa syarat. Ketika kita bisa menyayangi tanpa syarat, apa saja dan siapa saja dalam kehidupan secara sempurna, itu adalah praktek dharma tingkat tinggi yang sudah membadan dan kita sudah menjadi seorang yogi.

– Keluhan umum pertama : ketika mempraktekkannya, rasanya ”di dalam” ini sakit.

Tantangan dan kesulitan terbesar ketika kita mulai mempraktekkannya, adalah belajar mengendalikan diri sendiri. Diri ini terasa disakiti, sehingga dia melawan dan memberontak. Ketika biasa melepaskan amarah, ada perlawanan diri ketika mulai belajar sabar. Ketika biasa memikirkan diri sendiri, ada perlawanan diri ketika mulai belajar memikirkan kebahagiaan orang lain. Dll-nya. Inilah tanda-tanda bagaimana liarnya bathin ini yang menolak untuk dikendalikan. Dan merupakan tahap terberat dan tersulit. Jangankan orang yang baru mulai, orang yang sudah dianggap “suci”-pun bisa jatuh kembali ke tingkat mulai dari awal lagi.

Di awal-awal memang selalu akan terasa sakit. Sudah menjadi hukum alam bahwa sesuatu yang baru, yang baru pertama kali kita laksanakan, akan terasa menyakitkan. Tapi ketika dilaksanakan dengan teguh dan tekun, hanya beberapa bulan saja terasa sakitnya, di bulan kesekian rasa sakitnya sudah hilang.

Semakin terasa sakit, itu adalah pertanda lumpur ahamkara [ke-aku-an] dan sad ripu [enam kegelapan bathin] dalam bathin kita yang semakin pekat. Kelak di suatu hari kalau rasa sakitnya semakin menghilang, itu adalah pertanda lumpur ahamkara [ke-aku-an] dan sad ripu [enam kegelapan bathin] dalam bathin kita yang semakin bersih dan semakin bersih.

Sadarilah selalu bahwa tidak ada kemarahan, kebencian dan iri hati, yang ada hanya ahamkara [ke-aku-an] yang terluka. Tidak ada kesedihan, rasa kecewa, luka-luka hati, yang ada hanya kesadaran bathin yang sedang bertumbuh. Tat tvam asi, kamu adalah Tat [realitas absolut].

– Keluhan umum kedua : nanti dia tambah keterlaluan, bisa tambah kurang ajar

Kembalikan ke svadharma [tugas kehidupan] kita masing-masing. Misalnya : kepada anak-anak kita, sudah tugas kita untuk mengingatkan [mendidik] mereka dengan penuh kasih sayang apa kesalahan mereka. Tapi dengan catatan : apapun hasilnya, apapun yang terjadi, sifat welas asih kita tidak boleh berkurang sedikitpun : sayangi sayangi dan sayangi.

Untuk orang lain, kita katakan ke diri sendiri : tidak apa-apa. Relakan semua dalam senyuman dan bathin yang damai. Apapun yang terjadi sifat welas asih kita tidak boleh berkurang sedikitpun, sayangi sayangi dan sayangi. Kalau kemudian ada kejadian yang melanggar hukum, ada polisi, ada jaksa dan ada hakim yang punya svadharma [tugas kehidupan] untuk menangkap dan memenjarakan orang tersebut. Kita sendiri tidak perlu jadi polisi, jadi jaksa atau jadi hakim. Biarkan mereka yang melaksanakan svadharma mereka.

2. Keseimbangan bathin yang sempurna [non-dualitas].

Intisari yoga yang paling menentukan adalah ketika kita bisa menyambut semua dualitas dengan keseimbangan bathin yang sempurna. Rwa Bhinneda dalam bahasa tetua-tetua kita di Nusantara. Pikiran yang damai-tenang-seimbang. Pikiran, perasaan dan ekspresi kita tetap sama – damai tenang seimbang- ketika menghadapi segala macam dualitas keadaan. Dan kita bisa bertemu keseimbangan bathin [non-dualitas] yang sempurna kalau : apapun yang terjadi dalam kehidupan, sayangi sayangi dan sayangi.

Penting sekali untuk sama sekali tidak memfokuskan diri pada hasil. Kalau kita memang sudah berhak, dia akan datang dengan sendirinya. Tugas kita hanya satu : menyayangi, menyayangi dan menyayangi apa saja dan siapa saja, apapun yang terjadi dalam kehidupan. Setelah bertahun-tahun yang panjang, kalau waktunya memang sudah tiba, di suatu hari kita akan merealisasi jivan-mukti, keseimbangan sempurna dalam bathin yang tidak berubah. Bathin yang tidak lahir dan tidak mati. Di titik ini kita akan mengerti, dalam bathin kita ada bagian yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Ini yang disebut orang yang “sadar”. Sadar akan hakikat realitas diri yang sejati.

Kalau di detik-detik menjelang kematian, di moment menjelang kematian, keseimbangan bathin kita seperti itu, roda samsara berhenti, hukum karma berhenti dan kita tidak akan lahir lagi.

PENUTUP

Hafal dan memahami Veda dan Vedanta secara baik tidak bisa membuat anda dan saya merealisasi jivan-mukti. Membaca tulisan Rumah Dharma tidak bisa membuat anda dan saya merealisasi jivan-mukti. Pengetahuan intelek tidak bisa membuat anda dan saya merealisasi jivan-mukti. Teori yang hebat-hebat tidak bisa membuat anda dan saya merealisasi jivan-mukti. Kalau cocok dengan konsep pembebasan paling sederhana dalam tulisan ini, kita musti mempraktekkannya secara tekun setiap saat setiap waktu : menyayangi, menyayangi dan menyayangi tanpa syarat. Hanya dengan cara begitu bathin kita bisa mulai cepat berevolusi menuju jivan-mukti [pembebasan].