USAHA MENGENAL KAWITAN

OM Svastyastu,
Kiriman: Putra Semarapura

Baru-baru ini Unhi Denpasar menyelenggarakan seminar dengan pokok bahasan kemungkinan pengenalan soroh (wangsa) melalui tes DNA. Dari segi hukum, usaha mengenal kawitan atau soroh, serta pemakaian atributnya bagi umat Hindu merupakan salah satu hak asasi manusia (HAM). Karenanya, siapa pun dan dari pihak mana pun tidak berhak melarangnya. Sedangkan dari segi agama (baca: Hindu), pengenalan akan kawitan (soroh) bersifat wajib.
Diyakini, bahwa pengenalan akan kawitan/leluhur secara mantap akan lebih memantapkan sradha-bhakti terhadap kawitan/leluhur, lebih lanjut akan meningkatkan kemantapan sradha-bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan YME). Dengan demikian, kesejahteraan hidupnya pun dapat diharapkan akan makin meningkat.

Untuk itu saya menyampaikan imbauan:

1. Sebagaimana sikap proaktif pihak Unhi dalam masalah soroh atau wangsa ini, saya berharap hendaknya lembaga-lembaga yang terkait dengan masalah soroh/wangsa ini, seperti Majelis Adat Desa Pakraman (selaku pembina adat), PHDI (selaku pembina umat Hindu), Pengadilan Negeri (selaku pelanjut fungsi Rad van Kerta zaman Belanda dulu) agar juga proaktif, secara langsung maupun tidak langsung, membantu pihak yang berkepentingan dalam usaha mengenal kawitan/ leluhur. Serta membuat jurus-jurus penyelesaian secara dini, akan kemungkinan terjadinya kasus-kasus yang bernuansa soroh-adat di kalangan masyarakat.

2. Bagi pihak yang berkepentingan, dalam usahanya mengenal kawitan/leluhur, hendaknya termotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan sradha-bhakti kepada kawitan berlanjut ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan YME); serta menjauhi pradigma lama (zaman pemerintahan Belanda) yang beranggapan bahwa ada soroh yang lebih/kurang tinggi dari soroh lainnya. Di alam demokrasi ini pradigma lama seperti itu sudah tidak ada tempatnya lagi.

3. Demi ajeg Bali, di satu pihak hendaknya setiap umat Hindu di mana pun berada merasa terpanggil untuk menjadi ujung tombak dalam menjaga keharmonisan Tri Hita Karana; dalam mengembalikan pola hidup dan pola pikir yang paras-paros sapranaya, salunglung sabayantaka. Di pihak lain, menjauhkan diri dari perilaku yang bernada arogansi soroh.