Hidup Dengan Cinta Kasih

Oleh: I Made Murdiasa, S.Ag
SIFAT benci, marah dan iri hati adalah tiga sekawan yang lahir dari kemelekatan dan keakuan (egois). Bila ketiganya ini dimiliki oleh seseorang, maka jadilah dia orang yang paling menderita karena ketegangan dan frustasi. Rasa benci adalah pembunuh kegembiraan yang paling besar, tidak ada kegembiraan maupun ketenangan dihati mereka yang memiliki rasa benci. Seseorang menjadi benci karena melihat orang lain berhasil dan banyak punya pengikut. Ke”akuannya”tidak membenarkan orang lain menyaingi dirinya, baik dalam materi, kekuasaan maupun pengaruh. Dengan segala tipu dan cara ingin dia melenyapkan saingannya itu namun kekerasan ini selalu dapat dikalahkan dengan cinta kasih yang tulus. Kami akan mengutifkan dua buah contoh dari kejahatan yang ditimbulkan oleh rasa benci yang selalu dibalas dengan cinta kasih yang tulus.Maharsi Dayananda mempunyai tukang masak yang sudah lama melayaninya yang bernama Jagannatha. Pada suatu hari Jagannatha disuap oleh seseorang yang benci kepada maharsi Dayananda ia dibujuk agar mau membubuhkan racun pada makanan yang akan dihidangkan kepada maharsi. Karena tergoda oleh uang yang dijanjikan maka jagannatha pun mau melakukannya. Akibatnya maharsi Dayananda keracunan hebat sehingga tidak bisa bangun dan tinggal menunggu ajalnya.

Dalam keadaan yang demikian maharsi memanggil Jagannatha: “Ini adalah uang untuk membeli tiket perjalananmu pulang ke Nepal. Cepatlah pergi sebelum pengikutku tahu, apa yang engkau telah perbuat, kalau tidak mereka akan mencabik-cabik tubuhmu menjadi berkeping-keping”.

Contoh yang lain adalah Mahatma Gandhi pelopor perjuangan Swadesi/cinta kasih, dengan tanpa kekerasan memboikot industri inggris dengan memajukan Swadesi. Akibatnya ada juga orang benci kepadanya karena Mahatma Gandhi dipatuhi oleh rakyatnya. Kebencian telah menyebabkan seseorang menembak Mahatma Gandhi dengan senapan sehingga peluru menembus dadanya. Waktu itu Mahatma Gandhi meminta kepada mereka yang berusaha menolongnya agar membebaskannya dan mengampuni orang yang menembak dirinya.

Apa sebab maharsi Dayananda dan Mahatma Gandhi mudah sekali memaafkan orang yang membencinya? karena cinta kasih telah menjadi darah dagingnya, betapapun besar kebencian orang dijawab dengan uluran kasih. Karena kebencian tidak akan bisa dilenyapkan dengan kebencian, kebencian akan bisa dilenyapkan dengan cinta kasih. Kita melihat didalam cerita silat dimana kebencian selalu dibalas dengan kebencian dan akibatnya adalah kehancuran semata-mata.

Bagi mereka yang meninggal dan masih membawa dendam akibat kebenciannya sewaktu masi hidup di dunia, mereka akan sengsara, rohnya akan gentayangan menjadi hantu, ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang dibencinya. Rohnya tersesat tak bisa masuk sorga karena kemelekatan pada kehidupan didunia, padahal dia tidak mempunyai jasad lagi. Anak-anak sekarangmungkin sulit bisa menerima sikap dari Mahatma Gandhi yang dianggapnya konyol, pasip dan menyerah. Hal ini disebabkan oleh pengaruh film-film mandarin yang selalu bertemakan pembalasan dendam dengan dalih menuntut keadilan. Permusuhan yang turun – temurun karena balas membalaskan rasa benci pasti menghancurkan kedua belah pihak.

Kemarahan akan sama buruknya dengan kebencian. Kemarahan menjadikan orang lupa kepada kebenaran. Kata-kata yang keras dan tajam serta tindakan yang kejam selalu muncul dari orang yang marah. Akibatnya kebaikan yang telah dirintis bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu menit akibat kemarahan. Kemarahan akan bisa menjadikan mata gelap dan pikiran buntu. Sadarlah dan ingatlah bahwa kemarahan itu seperti setumpuk jerami kering yang disulut dengan sebatang korek api akan musnah dalam sekejap. Demikian pula akibat kemarahan akan menghancurkan kebaikan-kebaikan yang terdahulu dalam sekejap.

Demikian pula dengan sifat iri hati adalah merupakan kebodohan yang sia-sia. Ketidaksenangan melihat orang lain berhasil serta kekecewaan karena diri sendiri tidak mampu, melahirkan iri yang menyesakkan dada. Iri hati adalah perpaduan antara “kemelekatan dengan ke-aku-an”. Untuk melenyapkan iri hati maka lenyapkanlah kemelekatan dan keakuan itu melalui kesadaran. Sadarlah bahwa kita tak lebih dari seorang kasir yang beruntung dipercaya oleh Ida Sang Hyang Widhi untuk menjaga milik Beliau. Karena itu apa yang dapat dibanggakan oleh seorang kasir? Perasaan yang mengira diri berjasa, merasa diri diperlukan atau diperhitungkan patut kita buang jauh-jauh untuk menghilangkan kesombongan diri “ego”itu. Kita berhutang kepada bumi ini yang telah memberi kita makan, minum dan udara yang bersih oleh karena itu kita harus bayar dengan kerja dan bhakti yang tulus iklas dan penuh kesadaran. Dengan kesadaran akan kenyataan ini maka kemelekatan dan keakuan akan lenyap karena dengan sikap yang penuh cinta kasih segala sifat iri hati pun akan lenyap.*