Sangat mudah menjadi ‘Manusia Imitasi’
~J. Krishnamurti.

Kita umumnya sudah sedemikian terkontaminasinya. Secara jasmaniah, kita bisa saja sedemikian bersihnya, hidup sedemikian higenisnya, karena karena kita seorang dokter misalnya, namun secara mental, secara batiniah, kita sedemikian terkontaminasi. Orang-orang yang kita kagumi, idoal-idola kita, punya potensi dan peluang yang sangat untuk mengkontaminasi tataran mental hingga batin kita. Selanjutnya, itulah yang mengkondisikan kita.

Bila saya seorang pengagum-berat J. Krishnamurti misalnya, saya terkontaminasi oleh pemikiran-pemikirannya, oleh pandangan-pandangannya, dan sayapun mau-tak-mau jadi terkondisi oleh pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangannya itu. Kontaminasi ini bisa sedemikian jauh dan mendalamnya, sampai-sampai kita samasekali kehilangan jati-diri kita dan —seolah-olah— menjadi orang mengkontaminasi kita itu, menjadi tiruannya. Kita tak akan pernah lagi bebas memandang, bebas berpikir di luar pandangan-pandangan dann pemikiran-pemikirannya itu. Dalam ketidak-sadaran kita itu, kitapun merasa senang, merasa tersanjung, kalau ada yang berkata: “Wah … Anda ini Krisnamurti banget deh ….”. Sangat kekanak-kanakan bukan?

Demikianlah …. dalam kehidupan kita sehari-hari —dimana mau-tak-mau perhatian kita senantiasa mengarah ke luar— kita amat rentan akan kontaminasi dari berbagai arah, dari beraneka orang, apalagi yang begitu kharismatik di mata kita. Saya bisa saja bebas dari ‘sosok kontaminan’ tertentu, namun dengan mudah terkomanisasi lagi oleh yang lainnya —yang sekarang saya anggap sesuai, yang saya anggap lebih cocok, lebih masuk-akal atau sejenisnya. Makanya, sebelum seseorang benar-benar menemukan Diri-Jati-nya —yang bukan jati-dirinya— ia akan tetap rentan secara batiniah. Ia masih mudah terkontaminasi oleh sosok-sosok yang dikaguminya. Ia akan sangat mudah menjadi ‘manusia imitasi’.