Melampaui Ketidakadilan

Gede Prama
Tidak ada yang bisa menyamai Thich Nhat Hanh dalam hal bercerita dengan memadukan kesederhanaan dan kedalaman. Itulah kelebihannya. Ini juga terasa ketika membaca kembali ceramah beliau tahun 1996 yang berjudul Transcending Injustice. Mirip dengan cerita Anthony de Mello tentang orang tua bijaksana yang difitnah menghamili gadis desa, kemudian tercerahkan, dalam ceramah ini Thich Nhat Hanh bercerita tentang seorang gadis cantik Kinh yang dari awal hingga akhir hidupnya penuh ketidakadilan.

Seluas ruang
0rangtua Kinh berharap yang lahir lelaki, ternyata perempuan. Dari sinilah ketidakadilan dimulai. Begitu remaja, Kinh tidak punya pilihan lain terkecuali mengikuti tradisi masyarakat Vietnam Utara ketika itu, yakni dinikahkan dengan pria yang disukai orangtua. Ini pun ia jalani sebagai bakti ke orangtua.

Suatu waktu ketika Kinh sedang menambal pakaian sobek, suaminya tertidur di pangkuannya. Melihat kumis suaminya tidak rapi, diambilnya gunting. Tiba-tiba suaminya terbangun, kemudian berteriak ketakutan. Ibu mertuanya datang, menuduh Kinh mau membunuh putranya. Ujung-ujungnya, ia diceraikan. Ini ketidakadilan ketiga.
Sadar dalam-dalam bahwa tidak mungkin menemukan kedamaian pada kehidupan duniawi yang penuh permusuhan dan kecurigaan, wanita cantik ini kemudian pelan-pelan meninggalkan rumah, pergi ke pusat meditasi yang jauh, menyamar menjadi laki-laki agar mudah diterima menjadi murid meditasi.

Sebagaimana dialami banyak praktisi, meditasi membuat seseorang menjadi lebih anggun karena terlatih menghiasi pikiran dengan kesadaran, kesabaran, kedamaian. Jadilah Kinh yang aslinya sudah cantik bertambah anggun. Ketidakadilan berikutnya dimulai dari sini, seorang gadis anak orang kaya di sana jatuh cinta pada Kinh kemudian mengejar ke mana-mana.

Karena permintaannya terus ditolak, gadis anak orang kaya ini mengobati frustrasinya dengan menjalin hubungan intim bersama pelayannya, tetapi selalu membayangkan Kinh. Dan ketika gadis ini hamil, ia menuduh Kinh yang menghamilinya. Tentu saja tuduhan ini dibantah. Kendati demikian, tetap keluarga orang kaya ini ngotot menyerahkan bayinya kepada Kinh.

Sesungguhnya, gampang mengakhiri percekcokan ini. Cukup Kinh membuka rahasianya sebagai wanita. Tetapi, sebagaimana praktisi meditasi tingkat tinggi umumnya, yang dilatih untuk mengolah apa saja yang terjadi menjadi meditasi, Kinh jalani setiap ketidakadilan dengan penuh kesabaran. Bagi yang sudah mengalami, tahu, sebelum berlatih meditasi, hati sesempit diri ini (ego), makanya mudah marah. Semakin besar ego, kian menyakitkan ketidakadilan.

Ketidakadilan yang diolah meditasi kemudian mengasah hati menjadi semakin luas. Tatkala hati sudah seluas ruang, terlihat kehidupan ternyata sebuah jejaring keterhubungan yang berisi putaran sempurna. Melawan putaran buahnya penderitaan, menyatu dengan putaran itulah pencerahan. Makanya makhluk tercerahkan disebut unobscured suchness (batin telanjang apa adanya sekaligus bebas dari penghalang emosi dan konsep).

Setelah menerima bayi yang dituduhkan sebagai anaknya, tiada hari tanpa cacian terhadap Kinh. Ketika Kinh tua dan siap meninggal, ia meninggalkan surat untuk membuka seluruh ceritanya. Tentu saja masyarakat heboh, kemudian semua berbalik mendoakan Kinh. Ujung-ujungnya banyak orang meyakini wanita korban banyak ketidakadilan ini ternyata mengalami pencerahan. Bagi setiap praktisi meditasi mendalam, kisah ini amat menggetarkan. Melalui cerita Kinh serta para suci terdahulu, terlukis indah, ketidakadilan hanya bisa dilampaui oleh hati manusia yang seluas ruang.

Hulunya pencerahan
Serupa sendok di gelas kecil, sedikit saja ada gerakan ia sudah berisik. Namun, begitu gelasnya pecah dan menyisakan ruang, sekeras apa pun sendoknya digerakkan ia tidak menimbulkan suara. Hal sama terjadi dengan banyak manusia yang ditimpa ketidakadilan. Ada yang putranya tertembak mati dalam demonstrasi, ada yang suaminya tewas diracun di pesawat, ada yang keluarganya wafat tertembak peluru aparat, ada yang kantornya dilempar bom molotov, ada yang terbakar oleh kompor gas, ada yang disiksa di jalan karena menjadi aktivis antikorupsi.

Namun, seberapa luas ruang kesadaran dan kesabaran seseoranglah yang akan menentukan, apakah ketidakadilan menjadi hulu sungai penderitaan, atau menjadi hulu sungai pencerahan. Namun, ketidaktahuan dan kemarahan membuat banyak manusia menjadikan ketidakadilan sebagai hulunya penderitaan. Jadi munculnya ketidakadilan kemudian membuat kehidupan berputar kencang dari kebencian ke kebencian lain. Ujungnya mudah diterka, badan sakit-sakitan, jarang bahagia, stres, ketika mati membawa serta kemarahan.

Sadar dengan risiko inilah, kemudian praktisi meditasi mendalam berjalan di jalan setapak yang pernah dilewati Kinh. Tatkala ketidakadilan datang, manusia seperti terkena panah. Melawan tidak saja tidak menyembuhkan, malah mengundang panah baru yang membuat luka semakin melebar.

Mendengar penjelasan ini, seorang aktivis protes, bila semua mengambil jalan ini, koruptor, penjahat akan merajalela? Tentu saja tidak mungkin semua mengambil jalan ini, ia sama tidak mungkinnya dengan berharap agar semua binatang selembut kelinci. Dunia binatang selalu ditandai makhluk lembut, seperti kupu-kupu, sekaligus binatang buas seperti harimau.

Catatannya, hati-hati karena di alam ada hukum yang tidak bisa ditawar. Bila menyentuh air, basah dan jika memegang api, akibatnya terbakar. Ia yang terus melawan ketidakadilan memang bisa disebut pahlawan mengagumkan, tetapi akan terus dikejar hawa panas kemarahan. Mereka yang melampaui ketidakadilan melalui kesempurnaan kesabaran bisa disebut pecundang memalukan, tetapi karena hati sudah seluas ruang, ketidakadilan berhenti jadi api penderitaan, berubah jadi air sejuk pencerahan. Kemudian berselancar di atas gelombang kesedihan-kebahagiaan menggunakan papan selancar kasih sayang.