Tukan Sampan dan Sarjana
Written by IB. Heri J

KISAH ceritera ini dikutip dari buku Intisari Bhagawadgita. Ceritera ini diawali dengan kisah seorang sarjana yang terkenal akan kemampuan intelektualnya. Sebagaimana kebiasaan kaum cendekiawan pada umumnya, memberikan ceramah, menghadiri diskusi/seminar, kutu buku, demikian pula sarjana ini. Pada suatu hari sarjana ini diundang untuk menghadiri suatu pertemuan penting, untuk menuju ke tempat undangan ia harus menyeberangi sebuah sungai yang luas dan arus airnya cukup deras. Didekatilah tukang sampan, mohon bantuan diseberangkan menuju tempat tujuan. Sarjana ini satu-satunya penumpang dalam sampan, hari itu angin dan arus sungai datang dari arah yang berlawanan sehingga perjalanan sangat lambat. Sarjana ini punya kebiasaan suka bicara kepada siapa saja yang dekat.

Sambil menikmati pemandangan alam di sekitar sungai, sarjana ini mulai berbicara dengan tukang sampan. ” Bapak bisa baca dan menulis ?. Tukang sampan menjawab ” tidak, saya tidak bisa membaca dan menulis.” Wah Bapak ini orang aneh, kata sarjana itu. Dewasa ini pemerintah telah mendirikan sekolah di setiap desa, mestinya Bapak sedikit-sedikit bisa membaca dan menulis.Sarjana ini terus bertanya : ” Bapak membawa Koran ?. Tukang sampan menjawab, saya tidak punya pendidikan sama sekali, apa gunanya saya membawa koran, sarjana berkata, tidak apa-apa. Orang biasa membawa koran meskipun tidak punya pendidikan.

Beberapa menit kemudian sarjana itu bertanya lagi,” Bapak punya jam, tolong saya beritahu jam berapa sekarang ?.Bila saya tidak berpendidikan dan tidak tahu jam, apa gunanya saya punya jam. Sarjana berkata lagi, segala pertanyaan saya, bapak tidak bisa menjawabnya, coba pikir berapa banyak hidup bapak terbuang-buang. Jika Bapak tidak berpendidikan, tidak punya koran, tidak punya radio, tidak punya jam tangan, maka tiga perempat hidup bapak sudah masuk dalam air.

Sementara itu angin kencang bertiup dan tiada berapa lama timbul angin ribut. Sampan mulai oleng, air sungai berlahan-lahan mulai masuk ke sampan. Tukang sampan tidak mampu lagi menguasai sampannya. Ia bertanya kepada sarjana itu. Bapak, apakah Bapak bisa berenang ?, Sarjana menjawab, ” tidak, saya tidak pernah belajar berenang. Ketika ia akan jatuh dari sampan, tukang perahu berkata kepada sang sarjana, ” Oh Bapak, sungguh sayang !, alangkah sia-sianya. Jika Bapak tidak bisa berenang maka sekarang seluruh hidup Bapak akan masuk ke dalam air.

Menyimak ceritera di atas, mengandung makna bahwa bila kita bepergian melalui sungai yang lebar dan deras, pengetahuan yang paling penting adalah bisa berenang, itu yang nomor satu. Bisa berenang lebih pentng daripada pengetahuan yang lain-lainnya. Kalau tidak bisa berenang segala pengetahuan lainnya : filsafat, fisika, kimia, dan sebagainya tidak ada gunanya.

Dalam perjalanan hidup manusia akan melewati sungai yang deras, penuh dengan gelombang kehidupan dan tidak dapat diramalkan dan kita harus tahu bagaimana caranya agar tetap di atas air dan bisa berenang. Untuk menyeberang dengan selamat kita harus mempunyai pengetahuan tentang atma (jiwa) dan kita harus mengembangkan kemampuan agar mengetahui apa yang berguna dan apa yang tidak berguna untuk menyeberangi sungai kehidupan duniawi. Bila kita tidak mengembangkan kemampuan dalam bidang ini maka tidak akan ada jalan bagi kita untuk sukses dalam hidup ini. Selama menjadikan kekayaan material (lahiriah) sebagai landasan dan tujuan hidup, manusia tidak akan pernah mendapatkan/menikmati kebahagiaan sejati.

Menurut Swami Siwananda, tujuan pembacaan mitologi keagamaan adalah untuk mengendapkan penonjolan rasio yang berlebihan dalam menghayati kesucian agama. Letak penghayatan agama di atas kekuatan rasio. Meraih kesucian Tuhan tidak dapat dengan ketajaman rasio semata-mata. Bahkan kalau rasio mendominir dalam proses penghayatan itu, akan mengantarkan seeorang kepada keragu-raguan dalam meyakini kesucian Tuhan.

Kemampuan dan ketajaman rasio (intelektual) bagi manusia adalah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan duniawi, dan juga dapat dipakai unsur pembantu pada proses keagamaan agar tidak kehilangan arah atau pegangan yang benar. Oleh karena itu kaum cendekiawan yang memiliki kemampuan dan ketajaman rasio, juga dituntut memiliki ilmu pengetahuan sejati tentang jiwa (spirit), agar tidak tenggelam dalam mengaruhi lautan kehidupan.