Saat Kesadaran Terlepas
Leteh seeloknya dimaknai lebih luas, lebih membatin, tidak cuma menyangkut mayat-mayat terserak di jalan, tapi kondisi leteh adalah kondisi di mana kesadaran, kesabaran, kehati-hatian manusia lepas, tanpa kontrol

Betulkah segala yang lepas dari tubuh penyebab keadaan tidak suci atau leteh ? Adagium ini tak begitu kuat, tentu. Sebab, setiap detik sel yang berjibun dalam tubuh mengalami masa pelepasan, menjalani masa uzur, penuaan lalu lepas. Setiap hari pasti ada rambut yang lepas dari batok kepala, ada kulit tua yang lepas dari setumpuk daging. Berak, kencing, kentut, meludah, keluar mani, ingus, dan sebagainya merupakan ritus tetap tubuh hidup ini –semua adalah proses pelepasan. Lalu apakah ini penyebab cemar? Lepas dari kategori suci tidak suci, pernyataan ini jelas melawan kodrat hidup yang senantiasa bertumbuh, ini sama artinya memunggungi putaran hukum semesta disebut trikona : lahir-hidup-mati. Bukankah kematian dan kehidupan baru setiap detik dialami makhluk hidup.

Ribuan sel mati di dalam tubuh, ribuan sel lahir, bertumbuh di dalam badan. Dalam pusaran mahadahsyat hukum trikona itu, boleh jadi hakikat suci -leteh merupakan urusan hati dan pikiran, di mana kelak secara berangsur melembaga menjadi kesepakatan sosial — ditulis dalam lontar-lontar, dipercaya sebagai titah para dewa. Tapi masalahnya kemudian, seeloknya tidak semua hal dipulangkan pada pikiran – lantas bertindak semau gue menuruti kehendak hati. Karena semata menuruti pikiran, Anda jangan kemudian coba-coba kencing atau berak di areal pura, berbuat tak senonoh di pelataran tempat suci. Tindakan melanggar dianggap etika kelaziman yang sudah menjadi kepercayaan tetap. Alam bertumbuh sebagaimana kodrat alamiahnya, setiap elemen memiliki struktur pasti.

Mengubah struktur, atau acuh tidak memperhatikan struktur, sama artinya dengan menciptakan ketidakharmonisan. Inilah kenapa kemudian, orang Bali, dalam merancang sesuatu wilayah senantiasa memperhatikan arah. Yang pertama mesti diperhatikan arah atas-bawah, arah matahari terbit, arah hulu-teben, arah gunung dan laut, utara- selatan, timur-barat. Arah matahari terbit, arah gunung, utara dan timur, posisi atas atau kepala disebut hulu. Hulu berarti utama atau awal. Pembagian pelataran tempat suci atau rumah di Bali misalnya selalu memakai konsepsi tri angga; hulu, jaba tengah, dan jabaan. Demikian juga penataan desa-desa di Bali selalu memperhatikan konsep tri angga, hulu teben, posisi gunung dan laut. Dari sini wilayah peruntukan kemudian di rancang.

Misalnya, di mana wilayah tepat membangun tempat suci, hunian penduduk, membangun pasar, menempatkan kuburan, dan sebagainya. Semua ini dirancang dengan struktur yang jelas, terinci, dan terukur. Semua ini terkait dengan pantangan suci- leteh. Sejak awal orang Bali merancang wilayah huniannya dengan keseimbangan tri angga, atau apa yang kemudian diejawantahkan dalam tri hita karana, menjaga keseimbangan hubungan senantisa tunduk pada hukum rta, hukum tunggal pengendali semesta. Tiga hubungan itu meliputi: hubungan dengan sang mahapencipta, dengan lingkungan, dan hubungan kepada semua makhluk hidup.

Dalam diri manusia keseimbangan ini dijaga dengan tri kaya parisudha dan triwarga. Tri kaya parisuda diupayakan lewat jalan menjaga kelurusan hidup, yakni: kelurusan dalam berpikir, berbicara dan bertindak. Triwarga dipraktikkan dengan menjaga keseimbangan antara keinginan, nafsu, dan etika hidup. Sebagai jagat kecil, manusia disangga tiga kekuatan tunggal, meliputi atma, prana, dan sarira. Atma adalah jiwa yang penyebab hidup. Prana adalah tenaga, kekuatan sabda -bayu-idep. Ia timbul dari menunggalnya atma dengan sarira, bersatunya jiwa dengan unsur membentuk tubuh. Dan seperti ini juga-lah alam semesta terbentuk.

Ia muncul dari hukumnya sendiri, dan dirinya sendiri juga adalah maha-hukum keteraturan. Tak ada yang bisa melawan keteraturan semesta itu. Barang siapa melawan, tidak sejalan dengan hukum keteraturan itu sendiri. Demikianlah daun-daun lepas pada saatnya, ranting-ranting tumbuh pada saatnya. Benda-benda langit berjalan teratur di titik edarnya, surya terbit saban hari, mencipta fajar. Ini adalah bentuk keteraturan itu. Semua teratur pada dunianya, semua tunduk pada dunianya. Ini pula bentuk paling agung dari kesetiaan semesta.

Orang Bali lalu menyebutnya sebagai satya, yang terkuat dan teragung dari segala kebenaran yang jamak itu. Sebab dia kebenaran tunggal. Ia tak tergapai leteh , pun tidak terpengaruh kesucian. Sebagai kesatuaan geografis, Bali dengan gunung-gunungnya, dengan empat danaunya, dengan ratusan mata airnya, dengan lingkaran sungai-sungai yang mengular, bukit-bukit yang memanjang, pantai-pantai mengampar, ngarai-ngarai curam, goa-goa gelap, sawah dan tegalan menghijau merupakan wujud keteraturan sendiri. Sebagai pulau mengambang, Bali lalu menjadi satu kesatuan yang hidup –dari potensi dan kondisi potensi alamnya terbangun geokultur, keadaban yang senantiasa terbangun atas dasar kosmogoni Bali. Dari sini kemudian dipetakan pandangan ulu-teben, tri angga, dan tri hita karana. Tujuannya tak lain menjaga keteraturan itu tetap teratur.

Kenapa kemudian orang Bali menganggap suci kawasan gunung? Mengapa kawasan “catur baga,” wilayah empat danau, Batur, Bratan, Buyan, dan Tamblingan dianggap suci? Tentu karena kawasan ini merupakan yang menentukan hidup-matinya ‘peradaban hidup’ bernama Bali. Bayangkan jika wilayah ini hancur, seluruh dataran Bali tidak mungkin bisa melangsungkan kehidupan. Dengan menjaga, melestarikan kawasan utama ini berarti Bali dengan setia menjalankan kehidupan peradaban air, peradaban yang kelak melahirkan mosaik agama tirta – agama yang sangat meninggikan harkat air sebagai ibu. Sayang yang terjadi kemudian? Orang Bali tak sepenuhnya bisa menjaga aliran peradaban itu. Betapa dengan sangat perih mesti disaksikan hancurnya peradaban “catur baga” itu. Vila dan hotel-hotel dibangun di wilayah hulu ini semata mengejar keuntungan ekonomi. Tanpa hendak berpikir pada hancurnya sumber mata air Bali.

Para pengembang seakan tidak menangkap masa yang jauh, tentang hari depan menggetirkan anak-cucu. Apakah Bali bisa bertahan tanpa keberlangsungan peradaban air? Dalam kondisi poranda demikian, berhadapan dengan hancurnya potensi sumber alam, tercemarnya danau dan sungai-sungai, pantai tergerus abrasi parah, tanah-tanah dan udara tercemar limbah kimia, bukankah ini menunjukkan kondisi leteh teramat akut? Berhadapan dengan kondisi yang teramat akut itu, National Geographic, edisi Indonesia, 2008, memetakan kondisi manusia yang kian ringkih. “Manusia telah mengubah wajah Bumi melebihi spesies mana pun dalam sejarahdan laju peralihan tersebut terus meningkat. Semut, berang, gajah segala jenis makhluk menata ulang lingkungan mereka.

Namun tak ada spesies yang telah sedemikian menyeluruh dalam membentuk habitatnya seperti kita dan kita tidak sedang memperlambat diri. Camkan ini: Dalam 50 tahun terakhir, manusia telah melakukan lebih banyak hal untuk mengubah Bumi dan ekosistemnya dibandingkan kurun kapanpun dalam sejarah.” “Pengaruh kita yang terjelas adalah pada daratan, di mana lebih dari pada 80 persen luas keseluruhannya telah tertoreh oleh kegiatan manusia. Aktivitas mengubah daratan setidaknya berlangsung sejak 10.000 tahun lalu ke awal pertanian dan permintaan akan pangan akan terus menghasilkan dampak manusia terhadap permukaan bumi.

Jalan raya dan rel kereta api membantu menyebarkan pengaruh kita lebih jauh, mendorong perambahan di sekitar kota dan membawa perburuan, pembalakan, pertanian ke hutan yang semula tak terjangkau.” “Dampak terhadap lingkungan dapat juga dilihat jelas dalam udara yang kita hirup. Asap dan gas rumah kaca dari hutan-hutan yang terbakar bergabung dengan asap kendaraan dan polusi dari pabrik dan pembangkit listrik untuk mengubah atmosfer kita secara mendasar. Lautan kita tercemar air limbah, bahan kimia, dan plastik yang kita buang ke laut, juga oleh lebih dari 80 juta ton ikan dan makanan laut lain yang kita ambil setiap tahun.”

Dan Bali sebagai pulau tujuan wisata boleh jadi telah memasuki batas ambang mengerikan. Potensi alamnya telah rusak. Pengembangan rumah hunian dan hotel yang menelusup ke wilayah-wilayah hulu, merangsek pusat peradaban air di empat danau penting Bali, Buyan, Beratan, Tamblingan, dan Batur. Jika ini terus meningkat, perang air patut kita waspadai. Dan bukah ini kondisi leteh, di mana ketidakteraturan berlahan menyesakkan pikiran dan hati. Belum lagi pecemaran-pencemaran yang sesungguhnya jika sadar bisa dihindari. Sebagai misal, pencemaran terhadap sampah plastik. Data yang ditunjukkan National Geographic , edisi spesial, 2008, terdapat 500 miliar sampai satu triliun kantong plastik dipakai di seluruh dunia setiap tahun.

Namun plastik membawa dampak begitu fatal, bayangkan, “Satu kantong plastik memakan satu detik untuk dibuat, 20 menit dalam penggunaan, dan memakan 100-400 tahun untuk terurai secara alamiah.” Leteh sebaiknya dimaknai lebih luas, lebih membatin, tidak hanya menyangkut mayat-mayat terserak di jalan, tidak semata menyangkut kacuntakan, tapi kondisi leteh atau tidak suci adalah kondisi di mana kesadaran, kehati-hatian manusia lepas, tanpa kontrol. Hingga manusia terus-menerus nuukin indria, menuruti kehendak nafsu, kemaruk tanpa mau berbagi – alih-alih hendak berbagi buat anak cucu di masa depan. Itulah leteh paling melekat – karenanya ia mesti diprayascita , dibersihkan dengan keheningan hati.