Rahasia di Balik Hidup Sederhana

I Wayan Dateng

Menapaki hidup sederhana merupakan salah satu bentuk atau jalan yang dapat digunakan oleh setiap orang untuk menghayati dan merindukan keberadaan Tuhan (Hyang Widhi). Namun pada masa-masa ini, kesederhanaan hidup dipandang sebagai bentuk kemiskinan dan kenestapaan. Inilah yang menyebabkan banyak orang cenderung hidup bergelamor dan berlebihan. Pandangan bagi orang demikian hanya memberikan makna pada sisi luar saja, bukan memahami dan mengambil makna terdalam dari kehidupan ini.

Hidup sesungguhnya merupakan tapa, maka dalam hidup manusia mesti mampu mengendalikan diri, di mana pengendalian ini dapat ditempuh dengan menjalani hidup sederhana. Dalam kesederhanaan termuat dimensi spiritual untuk hidup sabar, menerima apa adanya, dan tidak berharap pada apa yang bukan menjadi haknya. Inilah inti sari dari pengejawantahan ajaran Veda-Vedanta.

Mahatma Gandhi seorang praktisi Vedanta mengatakan hidup sederhana bukan berarti hidup miskin, tetapi kesederhanaan inilah yang justru dibangun oleh setiap orang yang hendak menghayati dan meraih kasih Tuhan. Orang yang mengerti dan memahami hidup tidak akan bersedih, berduka ataupun menyesali nestapa yang terjadi pada dirinya, melainkan menerima itu sebagai suatu rahmat dari Yang Maha Kuasa. Alasan ini muncul karena tidak ada segala sesuatu pun yang tidak berasal dari Tuhan. Apakah itu kebaikan, keburukan, suka, duka, kehidupan ataupun kematian hanya bersumber dari yang Tunggal yaitu Tuhan. Untuk itulah ajaran Veda-Vedanta mengajarkan pada umat manusia untuk memahami bahwa Tuhan ada di mana-mana, (Wyapiwyapaka Nirwikara). Ada dan meliputi setiap makhluk ciptaan (Liswara Sarwa Bhutanam) dan akhirnya memahami bahwa segala-galanya adalah Tuhan di Semesta ini (Sarwan Kalvidam Brahman).

Persembahan yang sederhana bukan berarti rendah, tetapi sesederhana apa pun bentuk dan wujud bhakti itu, adalah utama bagi mereka yang memahami philoshopi dan spirit hidup. Karena pandangan mereka diubah pada pemahaman yang tertinggi akan wujud dan keberadaan Tuhan, yakni dimuati dengan perasaan bhakti yang penuh ketulusan dan kedermawanan. Karena mereka tahu bahwa Tuhan tidak melihat besar kecil dari suatu persembahan, tetapi Tuhan hanya datang dan meminta perasaan hati yang tulus dan bhakti. Karena itu Bhagawad Gita menghilhami dan mengajarkan kepada setiap umat manusia untuk pertama kali menyucikan perasaan hati (batin) kemudian menyucikan pikiran, dan selanjutnya menyucikan perkataan dan perbuatan. Ketiga sifat mulia ini merupakan naungan bagi mereka yang menempuh dan menapaki hidup sederhana.

Dalam kesederhanaan setiap orang dapat melatih kesabaran, pengendalian diri, kemunafikan, kecongkakan, dan kemarahan. Semua sifat buruk ini akan menjadi mengecil ketika seseorang memahami akan kesederhanaan hidup ini. Tampaknya begitu menderita bagi mereka yang menempuh hidup sederhana, namun pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena di dalam penderitaan ada benih-benih cinta yang menguatkan jiwa manusia untuk meraih pencerahan. Dalam hal ini Mahatma Gandhi mengatakan “You cant lead true life without suffering” yang artinya manusia tidak dapat menjalani hidup yang sesungguhnya tanpa penderitaan. Pandangan ini menguatkan bahwa hanya manusia yang pernah menderitalah yang dapat menghayati dan merindukan keberadaan Tuhan itu.

Mereka yang menderita akan menganggap, sekecil apa pun yang diperoleh merupakan rahmat yang besar dari Tuhan dan hanya orang yang pernah menderitalah akan merasakan kesenangan dan kebahagiaan tatkala mendapatkan keberuntungan. Sedang bagi mereka yang hidupnya tidak pernah dirundung penderitaan akan menerima segalanya sebagai hal biasa-biasa saja. Dalam sejarah kebaktian, seorang bhakta yang agung seperti Sabari cukup sinkronitas untuk melukiskan hal di atas, karena dia menderita cukup lama dan hidup sederhana sejak sepeninggal suaminya. Namun Ia larut dalam pelayanan dan selalu merindukan kehadiran Tuhan Sri Rama sehingga pada akhir dari kehidupannya ia berhasil meraih kasih Tuhan yang tertinggi dengan penyatuan yang abadi. Dan salah satu ajaran kesunyataan yang diberikan Sri Rama kepada Subari adalah untuk bisa menapaki hidup sederhana sebagai pemuja Tuhan.