Kecemasan Sepanjang Hidup
Oleh : Dhana Putra

Pemilu baru saja berlalu. Dalam beberapa hari, para caleg akan mengetahui apakah dia akan terpilih atau tidak. Apa akibatnya kalau tidak terpilih? Diperkirakan mereka akan stres berat karena sudah mengorbankan segalanya. Ada yang menjual sawah atau tanahnya. Ada yang mencari pinjaman. Mereka bisa mempunyai masalah finansial, stres dan akhirnya seperti diperkirakan sejumlah pengamat — bisa menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Bukan hanya para caleg yang mengalami kondisi seperti itu. Dalam hidup ini, banyak orang yang bidup dengan kondisi masa silam atau masa depan. Sulit mencari orang yang bisa menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya dengan lapang dada, dengan perasaan yang tenang seimbang.

Ada orang yang membanggakan kesuksesan yang pernah diraihnya di masa silam. Dulu dia orang kaya, orang terkenal, menjadi juara, terkenal, dihormati semua orang, dan kesuksesan lainnya. Kesuksesan masa silam hanya membuat seseorang menjadi sombong, angkuh, dan tidak waspada dengan kehidupan ini. Semua kesuksesan tersebut adalah masa silam, yang kondisinya sudah berbeda dengan sekarang.

Ada orang yang meratapi kegagalan di masa silam. Saya pernah rugi, ditipu oleh patner bisnis, gagal dalam usaha, pendidikan saya tidak selesai, tidak ada title, bukan orang kaya, tidak ada koneksi, dan berbagai kegagalan yang lain. Meratapi kegagalan membuat Anda tidak akan bertindak di saat sekarang. Anda diliputi oleh perasaan khawatir, cemas, ketakutan, dan sebagainya.

Ada orang yang mencemaskan masa depan. Apa yang akan terjadi nanti, besok, lusa, minggu depan, tahun depan, dan seterusnya. Mereka terus menghitung dan menghitung dengan perasaan cemas dan khawatir. “Bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi mengalami kecelakaan? Bagaimana kalau bisnis tidak jalan? Bagaimana kalau teman bisnis saya seorang penipu? Bágaimana kalau nanti sudah tua, apakah anak-anak akan merawat saya? Bagaimana kalau saya kalah dalam pemilihan umum ini?”

Ketika sebuah masalah terjadi dalam hidup ini, kecemasan segera muncul — baik sadar, setengah sadar, maupun di bawah sadar. Anda akan merasa kesulitan menemui jalan keluar. Kita mencoba untuk menyelesaikan masalah yang ada agar menjadi lebih tenang.
Kalau Anda sakit, maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi; Anda akan kembali sehat dan bisa melanjutkan kehidupan ini atau Anda meninggal dunia. Salah satu dari keduanya pasti akan terjadi. Anda sudah tahu dan seharusnya tidak perlu cemas. Namun, banyak orang yang tidak bisa menerima gangguan kesehatan yang ada. Mereka berusaha untuk sembuh sesegera mungkin tanpa mencoba untuk mengkondisikan dirinya sebaik mungkin agar semakin sehat dan terus sehat.

Ketika Anda menjadi Caleg, ada dua kemungkinan yang pasti terjadi; kalah atau menang. Salah satunya pasti akan terjadi dan sejak awal seharusnya Anda sudah bisa menerima. Kenyataannya, seperti yang diperkirakan, akan banyak orang yang stres dan depresi hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.

Buddha telah mengajarkan bahwa hidup ini berubah, tidak pasti, tidak kekal, tidak ada yang abadi. Buddha juga mengajarkan berbagai kondisi dunia; senang-sedih, dipuji-dihina, untung-rugi, sehat-sakit, dan masih banyak yang lainnya. Salah satunya pasti akan terjadi dalam hidup Anda, hidup saya, dan hidup kita semua.

Coba kurangi — kalau bisa dihilangkan — perasaan cemas, khawatir, waswas, ragu-ragu, dan segala pikiran buruk lainnya. Pahami secara sadar, setiap tindakan yang kita lakukan akan menghasilkan akibat; baik atau buruk bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Kondisikan kehidupan sesuai dengan harapan Anda masing-masing. Mengkondisikan, mengarahkan diri dengan tujuan hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Cobalah untuk hidup saat ini. Terima segala kebaikan dan keburukan dengan lapang dada, hati yang terbuka lebar, tenang dan damai. Karena memang demikian warna kehidupan ini.

PEKAN silam, sebuah koran nasional menurunkan tulisan tentang persiapan sejumlah rumah sakit jiwa dalam menyambut datangnya calon penghuni baru. Rumah sakit jiwa mempersiapkan diri secara serius, menata kamar-kamar kosong yang bisa dihuni, dan persiapan lainnya. Siapa penghuni yang akan disambut? Mereka adalah para caleg yang gagal terpilih.